Asal-usul dan sejarah
Arab awal
Bangsa Arab pada abad 4-6 M.
Bangsa
Semit pada awalnya membangun peradaban di
Mesopotamia dan
Syria,
kemudian perlahan-lahan mereka kehilangan dominasi politik mereka
disebabkan serangan dari bangsa nomad Semit dan bangsa non Semit. Bangsa
Aram, Akkadia, Asiria, dan Minean berbicara dalam bahasa yang hampir
sama dengan bahasa Semit. Akhirnya, bangsa Semit kehilangan kekuasaannya
tepat pada serangan Persia dan kedatangan bangsa Yunani pada 330 SM.
Setelah penyerangan itu, bangsa Semit berdiaspora ke segala bagian.
Kebanyakan dari suku bangsa ini berpindah ke daerah selatan dan daerah
utara, dimana bangsa Arab akan berkembang disana. Bangsa Arab di Utara
membangun sebuah peradaban yang dinamakan peradaban Arab Nabatea.
Kemudian, Arab bagian Selatan membentuk kafilah-kafilah yang tersebar.
Kafilah-kafilah ini kemudian membentuk sebuah kerajaan di daerah
Yaman, yang disebut oleh bangsa
Yunani sebagai
Arabia Felix yang berarti "kawasan Arab yang beruntung".
Pada masa Sassanid,
Kekaisaran Romawi menguasai daerah Syam yang kemudian disebut
Arab Petra.
Bangsa Romawi menyebut daerah gurun di Timur Dekat ini sebagai Arabi.
Dan pada awal abad pertama masehi, Kaum Ghassan dari Yaman berpindah ke
daerah
Syam.
Kaum Ghassan, Lakhm dan Kindi menjadi kabilah-kabilah yang terakhir
kali berpindah ke Arab Petra. Kabilah Ghassan kemudian berpindah ke
daerah Syria, dan tinggal di kawasan Hurran dan daerah Levantine
(Lebanon, Palestina). Bangsa Ghassan menguasai
Syria sampai kedatangan kaum Muslimin di sana.
Sementara itu, kaum Lakhm bermukim di daerah pertengahan
Sungai Tigris. Mereka bersekutu dengan Sassanid untuk melawan
Kekaisaran Bizantium
dan Kabilah Ghassan. Mereka kemudian mengontrol daerah Arab bagian
Tengah. Kabilah Kindi bermigrasi ke Utara, tapi mereka kemudian
berpindah ke Bahrain dan tetap bermukim di Yaman.
Arab pra-Islam
Kaum Muslimin yang bermukim di Madinah mengacu pada kabilah gurun nomaden dan mereka disebut
A'raab. Kata
A'raab berasal dari istilah bangsa Asiria terhadap bangsa-bangsa yang pernah mereka taklukkan.
Al-Qur'an tidak memakai kata
ʿarab, tapi hanya menggunakan kata sifatnya yaitu
ʿarabiyyun. Al-Qur'an kemudian menjadi contoh yang sempurna bagi
al-ʿarabiyya, bahasa Arab. Kata benda netral
ʾaʿrāb berhubungan suku Badui Quraisy yang melawan
Nabi Muhammad SAW, contohnya pada surat
At-Taubah,
ʾaʿrābu ʾašaddu kufrān wa nifāqān "Mereka (suku Quraisy) semakin kafir dan nifaq". Berdasarkan terminologi Islam, kata
ʿarab menunjukkan bahasa, dan
ʾaʿrāb untuk kaum Arab Badui.